Di tengah kerumunan para sahabatnya, dia beriri sambil memegang segelas air sambil berkata kepada para sahabatnya, "lihatlah air dalam gelas ini..! Jika aku mampu meminumnya seteguk dan air ini masuk dalam tubuhku menghapus rasa dahagaku, maka akan aku sumbangkan sebagian hartaku di jalan Allah".
Para sahabatnya yang berkumpul menatapnya dengan seksama. Airpun diteguknya dan masuk kedalam tubuhnya, maka iapun berseru sukur Alhamdulillah.
Lelaki itu kembali berkata kepada para sahabatnya, "Wahai sahabat-sahabatku, jika air yang kuminum tadi bisa keluar dari tubuhku sebagaimana mestinya dia keluar, maka akan kusumbangkan sebagian hartaku di jalan Allah".
********
Laki-laki dalam cerita di atas bukanlah seorang Nabi, bukan seorang Rasul dan bukan pula seorang malaikat. Dia adalah Lukman yang namanya diabadikan sebagai salah satu surat dalam Al-Quran. Kecintaannya kepada Allah karena rasa syukur atas segala nikmat yang tiada hentinya diberikan oleh Allah.
Sebagian besar manusia di atas bumi ini hanya beranggapan bahwa nikmat yang sesungguhnya adalah berupa uang, harta, kekayaan dan tahta. Dan semua manusia merasakan penekanan dalam hidup jika terhimpit masalah. Kita selalu terlena dengan hal-hal yang tidak semestinya kita sebut sebagai nikmat. Kita akan merasa stress terhadap apa yang kita jalani sekarang ini. merasa tertekan dengan apa yang kita jalani sekarang ini. Dan kita hanya akan merasa senang dan bebas ketika kita bisa berhura-hura ria.
Pernahkah kita renungkan dalam hidup kita bahwa hingga saat ini jantung kita masih aktif memompa darah dan paru-paru kita masih bisa menerima oksigen yang masuk...!? Kita hampir-hampir lupa dengan semuanya itu. Padahal uang, harta, kekayaan dan jabatan kita akan sia-sia. Rencana kita berhura-hura ria tidak akan terlaksana, bila hal-hal yang sangat penting dalam hidup kita yang kita lupakan, tiba-tiba berhenti melayani kita. Jantung berhenti memompa, paru-paru tak mau lagi menerima oksigen, air dan makanan yang kita nikmati tak lagi bisa keluar dengan semestinya. Bayangkanlah jika itu semua terjadi.
Apapun yang kamu jalani hari ini. Masalah hidup yang berat, konsekwesi cinta yang tak dekat, atau apapun yang harus kamu rasakan hari ini, jadikanlah itu sebagai pelajaran dari Allah agar kamu dapat dewasa dalam hidup ini. Hidup ini kenyataan, dimanapun kamu berlari bersembunyi dari kenyataan yang harus kamu hadapi, dia akan selalu ada didekatmu. Maka jalanilah itu, apapun yang harus kamu jalani karena selalu ada hikmah yang menjadi pelajaran dihari esok. Agar kamu kuat. Agar kamu tegar.
Ingat.... "Seorang buta yang berjalan sendirian ditengah malam yang gelap, akan selamat dengan rezki dan nikmat dari Allah SWT". Bersukurlah dengan hidupmu, karena "fabiayyi ala i rabbikuma tukadziban" (Maka ni’mat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?).
No comments:
Post a Comment