Carl Mayer( 20 November 1894, Graz, Austria - 1 Juli 1944, London) adalah seorang pria penulis skenario berkebangsaan Austria yang menulis skenario untuk film kepada The Cabinet of Dr. Caligari (1920), Der Letzte Mann (1924), Tartuffe (1926), dan film Sunrise (1927), tiga film terakhir disutradai oleh F. W. Murnau.
Carl Mayer adalah putra seorang spekulan yang mati bunuh diri, memaksa Carl muda untuk meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun, dan bekerja sebagai seorang sekretaris. Carl Mayer hijrah dari Graz ke Innsbruck dan kemudian Vienna, di mana ia bekerja sebagai seorang pengarang sandiwara. Peristiwa dari Perang dunia I membuatnya masuk dalam golongan cinta damai.
Pada tahun 1917, Carl Mayer pergi ke Berlin, di sana ia bekerja pada sebuah gedung teater kecil. Ia berteman dengan Gilda Langer, seorang aktris terkemuka pada teater tersebut dan jatuh cinta kepada nya. Ia menulis skenario Dr. Caligari ( 1920) bersama Hans Janowitz, dan merencanakan Gilda Langer yang akan membintangi film tersebut. Namun, Gilda Langer meninggal dengan tak diduga-duga diawal tahun 1920. ( Peran dalam film tersebut kemudian digantikan oleh aktris terkenal, Lil Dagover).
Film The Cabinet membuatnya terkenal dan segera ia menjadi seorang penulis skenario terkemuka dan bekerjasama dengan banyak para sutradara terkemuka di Jerman. Ia bekerja dengan F. W. Murnau pada film D Letzte Mann ( 1924, dikenal judul Tawa Terakhir, di AS). Di Jerman, ia juga menulis skenario film Sunrise untuk Murnau ( 1927), yang dibuatnya selama Murnau'S berada di Hollywood.
Tidak lama sesudah bekerjasama dengan Béla Balázs pada film The Blue Light (1932arahan sutradara Leni Riefenstahl, Carl Mayer pergi ke London di tahun 1933 untuk keluar dari rejim Nazi. Di London, ia bekerja sebagai penasehat pada industri film Britania, dan berteman dengan para pekerja film Britania seperti sutradara dan penulis film, Paul Rotha.
Di tahun 1942,Carl Mayer dinyatakan menderita kanker. Menjelang akhir hidup nya, ia ingin membuat sebuah film dokumenter London, tetapi dalam kaitan dengan perasaan anti-German dan kondisi-kondisi ekonomi sulit, namun ia tidak menemukan produser yang mau membiayai pembuatan film documenter itu. Ia meninggal pada 1 Juli 1944 dalam keadaan miskin dan hampir terlupakan, hanya ada 23 poun uang tunai dan dua buah buku. Ia dimakamkan pada Highgate Cemetery di London.
Paul Rotha pernah diminta oleh Adrian Burnel pad bukunya yang berjudul Film Script, 1948. Maka pada halaman depan buku dengan sub judul The Technique of writing for the screen dimuat tulisannya sebagai berikut.
DIDEDIKASIKAN
Kepada Penulis Skenario yang memiliki kemauan
dan keteguhan hati menjadi seperti
CARL MAYER
“Ia adalah pekerja yang teliti dan tekun. Ia memerlukan sekian hari untuk menuliskan sejumlah shot. Setahun atau lebih untuk sebuah scenario. Ia akan bergelut dan berjuang dengan permasalahannya siang dan malam. Dibawany bersamanya, sambil melangkah dalam kesunyian. Dia tidak pernah menyerahkan skenarionya sampai dia puas betul masalahnya sudah terpecahkan. Ia lebih baik membatalkan kontrak dan mengembalikan uangnya dari pada menyelesaikan scenario dengan cara yang tidak betul. Ia punya prinsip besi yang lahir dari medium film itu sendiri, dan tidak pernah sekalipun berpisah dari prinsip itu. Insting dan kecintaannya pada film mendominasi pedoman hidupnya. Film berarti segalanya dan dia mengorbankan semuanya, termasuk kesehatannya untuk film…. Orang semacam ini, pada industri yang gila uang ini jarang. Ia telah mengukir namanya dengan huruf-huruf yang tinggi. Carl harum mendapatkannya sebagai hadiah atas sikapnya…bebas menulis seperti dan sebagaimana dia yakini”
Paul Rotha
Carl Mayer adalah putra seorang spekulan yang mati bunuh diri, memaksa Carl muda untuk meninggalkan sekolah pada usia 15 tahun, dan bekerja sebagai seorang sekretaris. Carl Mayer hijrah dari Graz ke Innsbruck dan kemudian Vienna, di mana ia bekerja sebagai seorang pengarang sandiwara. Peristiwa dari Perang dunia I membuatnya masuk dalam golongan cinta damai.
Pada tahun 1917, Carl Mayer pergi ke Berlin, di sana ia bekerja pada sebuah gedung teater kecil. Ia berteman dengan Gilda Langer, seorang aktris terkemuka pada teater tersebut dan jatuh cinta kepada nya. Ia menulis skenario Dr. Caligari ( 1920) bersama Hans Janowitz, dan merencanakan Gilda Langer yang akan membintangi film tersebut. Namun, Gilda Langer meninggal dengan tak diduga-duga diawal tahun 1920. ( Peran dalam film tersebut kemudian digantikan oleh aktris terkenal, Lil Dagover).
Film The Cabinet membuatnya terkenal dan segera ia menjadi seorang penulis skenario terkemuka dan bekerjasama dengan banyak para sutradara terkemuka di Jerman. Ia bekerja dengan F. W. Murnau pada film D Letzte Mann ( 1924, dikenal judul Tawa Terakhir, di AS). Di Jerman, ia juga menulis skenario film Sunrise untuk Murnau ( 1927), yang dibuatnya selama Murnau'S berada di Hollywood.
Tidak lama sesudah bekerjasama dengan Béla Balázs pada film The Blue Light (1932arahan sutradara Leni Riefenstahl, Carl Mayer pergi ke London di tahun 1933 untuk keluar dari rejim Nazi. Di London, ia bekerja sebagai penasehat pada industri film Britania, dan berteman dengan para pekerja film Britania seperti sutradara dan penulis film, Paul Rotha.
Di tahun 1942,Carl Mayer dinyatakan menderita kanker. Menjelang akhir hidup nya, ia ingin membuat sebuah film dokumenter London, tetapi dalam kaitan dengan perasaan anti-German dan kondisi-kondisi ekonomi sulit, namun ia tidak menemukan produser yang mau membiayai pembuatan film documenter itu. Ia meninggal pada 1 Juli 1944 dalam keadaan miskin dan hampir terlupakan, hanya ada 23 poun uang tunai dan dua buah buku. Ia dimakamkan pada Highgate Cemetery di London.
Paul Rotha pernah diminta oleh Adrian Burnel pad bukunya yang berjudul Film Script, 1948. Maka pada halaman depan buku dengan sub judul The Technique of writing for the screen dimuat tulisannya sebagai berikut.
DIDEDIKASIKAN
Kepada Penulis Skenario yang memiliki kemauan
dan keteguhan hati menjadi seperti
CARL MAYER
“Ia adalah pekerja yang teliti dan tekun. Ia memerlukan sekian hari untuk menuliskan sejumlah shot. Setahun atau lebih untuk sebuah scenario. Ia akan bergelut dan berjuang dengan permasalahannya siang dan malam. Dibawany bersamanya, sambil melangkah dalam kesunyian. Dia tidak pernah menyerahkan skenarionya sampai dia puas betul masalahnya sudah terpecahkan. Ia lebih baik membatalkan kontrak dan mengembalikan uangnya dari pada menyelesaikan scenario dengan cara yang tidak betul. Ia punya prinsip besi yang lahir dari medium film itu sendiri, dan tidak pernah sekalipun berpisah dari prinsip itu. Insting dan kecintaannya pada film mendominasi pedoman hidupnya. Film berarti segalanya dan dia mengorbankan semuanya, termasuk kesehatannya untuk film…. Orang semacam ini, pada industri yang gila uang ini jarang. Ia telah mengukir namanya dengan huruf-huruf yang tinggi. Carl harum mendapatkannya sebagai hadiah atas sikapnya…bebas menulis seperti dan sebagaimana dia yakini”
Paul Rotha
No comments:
Post a Comment